Banner Iklan

Tradisi 10 Muharram, Berkah bagi Pedagang Ember dan Perlengkapan Rumah Tangga

06 Juli 2025 | oleh Redaksi

Tradisi 10 Muharram, Berkah bagi Pedagang Ember dan Perlengkapan Rumah Tangga
Bagikan:

WAJO – Momen 10 Muharram atau Hari Asyura bukan hanya menjadi peristiwa religius bagi umat Islam, tetapi juga membawa dampak ekonomi yang signifikan bagi pelaku usaha kecil, khususnya pedagang perlengkapan rumah tangga di wilayah Bugis, Sulawesi Selatan.

Setiap tahunnya, menjelang 10 Muharram, pasar-pasar tradisional di berbagai kabupaten seperti Wajo, Bone, dan Soppeng tampak lebih ramai dari biasanya. Pemicunya adalah tradisi membeli ember atau gayung baru yang dijalankan oleh masyarakat, terutama para ibu rumah tangga. Benda sederhana ini menjadi simbol penampung berkah dan rezeki, yang diyakini datang bertepatan dengan hari Asyura.

Baca Juga: Mitra Driver Draiv Jadi Korban Pengeroyokan di Pattirosompe, Kasus Dilaporkan ke Polsek Tempe

“Kalau sudah masuk Muharram, penjualan ember naik drastis. Biasanya sehari hanya terjual beberapa, sekarang bisa puluhan,” ujar Irmawati, pedagang perlengkapan rumah tangga di Pasar Sentral Sengkang, Minggu (6/7/2025).

Ia menyebut, lonjakan permintaan mulai terasa sejak awal bulan hijriah, dan memuncak sehari sebelum 10 Muharram. Tidak hanya ember, tetapi gayung, baskom, hingga tempat air lainnya ikut laris-manis.

Tradisi ini, meskipun tidak memiliki dasar syariat yang spesifik, tetap dilihat sebagai bentuk kearifan lokal yang tidak bertentangan dengan ajaran agama. Da’i Kabupaten Wajo, H. Hasan Basri, S.Pd.I., M.Pd, menegaskan bahwa selama praktik budaya tidak melanggar prinsip-prinsip Islam, maka tradisi tersebut dapat dijaga dan diwariskan.

“Makna air dalam kisah Nabi Musa AS pada 10 Muharram menginspirasi masyarakat untuk menjadikan wadah air sebagai simbol harapan dan doa. Ini bentuk ekspresi budaya yang tidak keluar dari koridor agama,” jelas Ustadz Hasan Basri.

Baca Juga: Revolusi Penghijauan di Wajo, Bupati Andi Rosman: Salah Satu Cara Antisipasi Banjir

Bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM), momen ini juga menjadi titik balik untuk meningkatkan pendapatan mereka. Bahkan beberapa produsen ember lokal turut merasakan lonjakan pesanan dari pengecer.

“Biasanya hanya produksi biasa, tapi kalau mendekati Muharram kami bisa produksi dua kali lipat. Alhamdulillah banyak pesanan dari pasar-pasar kecil,” kata Rahmat, pengrajin ember plastik asal Sidrap.

Baca Juga: Pastikan Kualitas Pekerjaan, Wakil Ketua DPRD Sulsel Sufriadi Arif Tinjau Proyek Jalan

Tradisi ini menunjukkan bagaimana nilai budaya dan keyakinan religius dapat mendorong perputaran ekonomi di tingkat lokal. Dari pasar hingga produsen rumahan, semua mendapatkan dampak positif dari tradisi yang terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat Bugis.

Lebih dari sekadar aktivitas tahunan, momen 10 Muharram menjadi pengingat akan kuatnya hubungan antara tradisi, spiritualitas, dan ketahanan ekonomi masyarakat lokal.

Editor : Salman Alfarisi