WAJO – CELOTEHMUDA.COM – Kemarin (Minggu, 22/03/2026) pasang air laut atau rob –di dalam bahasa Bugis dialek setempat disebut wai bonang, melanda pesisir Pitumpanua dan Keera bibir Teluk Bone termasuk tambak milik H. Malik di Toboko di Desa Keera, Kecamatan Keera, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.

H. Malik pun dalam dakuannya kepada media ini mengalami kerugian dengan taksiran hingga 20 juta rupiah dengan udang vaname atau udang kaki putih (Litopenaeus vannamei) yang keluar dari tambaknya akibat tanggul tambak yang jebol.

Siang hingga sore kemarin dari sekira pukul 12.00 hingga 16.30 Wita rob juga melanda sebagian pesisir Kecamatan Pitumpanua di Leworeng, Ading, Bolabakka, dan Bangsalae (Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan).

Rustam Rahim pembudidaya ikan bandeng mengalami kerugian hingga sekira 15 juta rupiah akibat pematang tambaknya di dekat muara sungai Siwa dan sungai Bulete (wilayah administrasi Bolabakka) jebol.

Enam bulan lalu Rustam menebar ribuan bibit ikan bandeng (Chanos chanos), namun kemarin Rustam memperkirakan hampir semuanya hilang ketika tambaknya jebol.

Sore kemarin Rustam berusaha mencapai tambak yang dikelolanya saat pasang sudah surut dan menemukan pematangnya jebol.

“Padahal tidak lama lagi panen. Sudah naik lima ekor per kilo waktu saya ambil untuk keperluan lauk sehari-hari di rumah ,” ujar Rustam kepada media ini. Menurut Rustam banjir rob kali ini lebih besar dibanding lima tahun yang lalu.

Beberapa warga juga terhalang saat bersilaturahmi pascaidulfitri di mana jalan-jalan kampung tergenang air pasang.

Dari Dusun Watti Desa Inrello Kecamatan Keera petambak Agustan menyebut dirinya sudah mengantisipasi dengan mempercepat panen ikan bandengnya dengan melihat gejala-gejala banjir rob beberapa hari yang lalu.

Petambak Kamaruddin di Dusun Langkenna, Desa Pattirolokka, Kecamatan Keera mengalami kerugian yang lebih ringan sebab hanya bibit ikan yang keluar dari tambaknya.

Koordinator Penyuluh Perikanan Kabupaten Wajo Bakhtiar, S.Pi. memberitahu media ini bahwa Minggu kemarin ditaksir menjadi hari puncak rob di pesisir Teluk Bone, kalaupun datang lagi kira-kira Selasa besok (24/03/2026), sesuai siklus dan pengamatan selama ini minimal menyamai ketinggian rob kemarin.

“Memang silkusnya November, Desember, Januari, Februari, dan biasanya Maret-April puncaknya apalagi ditambah dengan datangnya musim hujan,” terang Bakhtiar pagi ini (Senin, 23/03/2026).

“Biasanya hampir semua pesisir Teluk Bone dari Wajo, Bone, Sinjai sepanjang pantai barat mengalami rob apalagi ditopang oleh angin timur,” tambahnya.

Menurut teori rob biasanya muncul saat pasang maksimum (bulan purnama atau bulan baru). Airnya asin atau payau dan bisa terjadi meskipun tidak hujan Penyebab banjir rob adalah pasang air laut tinggi yang dipengaruhi oleh gravitasi bulan dan matahari. (*)